Kehabisan Kata

Hanya berisi kata-kata tentang semesta yang makin pepat tanpa pesta

Aku Kau

Aku tak bicara saat kau bicara, untuk itu aku mendengar.  Aku marah  kau marah, untuk itu kalah diperlukan. Aku bersenandung kau tidur, untuk itu merdu diperlukan. Aku malas kau kesal, untuk itu pengertian diperlukan. Aku pelupa kau pelupa, tidak tahu apa obatnya. Aku cinta kau cinta, untuk itu masalah diperlukan. Aku tertawa saat kau tertawa, saat itu  dunia ceria.

Sebenarnya

Sebenarnya langit tidak berwarna, hanya mata yang melihatnya biru

Seperti manusia, hanya cinta yang menjadikannya satu

Sebenarnya  tulisan tidak akan berarti jika tak ada yang bisa membaca

Seperti cinta jika tidak ada perbedaan

Sebenarnya bunyi itu tidak ada jika getaran tak ada

Seperti cinta yang selalu membutuhkan masalah

Sebenarnya semua itu indah

Berhenti

Saat mata terpejam dan semuanya terekam
Tak terlihat bayang-bayang dirimu yang menakutkan
Karena semua sudah mati dimakan waktu
Berhentilah untuk hidup di saat itu

Saat nikmati lara dan semuanya terbata
Tak bisa terbaca, tak bisa membaca
Karena semua terlihat samar
Berhentilah untuk menjadi dungu

Sama

Grup musik zaman sekarang sama seperti agama, sebenarnya sama tetapi tak mau disamakan.

Pacaran zaman sekarang sama seperti jualan obat, terlalu pamer dan berlebihan.

Remaja zaman sekarang sama seperti ayam renyah pinggir jalan, murah dan ada dimana-mana.

Film zaman sekarang sama seperti jemuran, hanya BH dan celana dalam.

Menulis zaman sekarang sama seperti ini, yang sebenarnya hanya mengetik.

Yang sama dari dulu itu ibu,

selalu marah tetapi diam-diam mencintai.

Jumat lagi

Bertemu saat komunis dimusnahkan dari nusantara dan pergi ketika tentara menambah usia.

Jumat hanya milik saya.

Jumat

Sebentar lagi Jumat, tujuh hari.

Jumat itu membuat gairah, menghangatkan jari, membasahi abu di lantai saya. Harus lebih dari tujuh hari sampai mencapai kehabisan. Yang saya tahu 10%, itu yang ada di sini sekarang.

Kemana si babi hitam, mungkin asik memainkan kelaminnya sendiri. Menikmati hasil dari pesugihannya. Jalang.

Sebentar lagi Jumat, hampir tujuh hari.                                                                                                   

Mungkin Akhir Cerita

Mungkin akan sampai di akhir cerita Nadri. Tidak seru seperti dulu lagi. Seperti ketahuan masturbasi di depan ibumu.

Dia sudah bertemu yang lain Nadri, seperti kau yang kepanasan. Matahari terlalu menyengat akhir-akhir ini. Sampai kau tak bisa melihat orang yang ada di hadapanmu. Jelek seperti rambut pantatku. Tapi jauh lebih baik daripada seumur hidup tanpa lampu.

Kita sama Nadri, ingin terkenal tapi beda cara. Seperti semua orang beragama yang ingin masuk surga tapi beda cara. Dia juga sama. Anjing.

Jangan buat ini akhir Nadri, masih banyak yang ingin aku tulis. Kau aktor dari segalanya, seperti Tuhan, diam saja tetapi tercipta banyak agama. Jadilah Tuhan, Nadri. Tak punya akhir.

Dan tepuk tanganlah yang kau harapkan.

Tidur

Bangun tidur kuterus pipis, tidak lupa menghisap rokok. Habis itu kunyalakan tv lalu tidur lagi.

Bangun lagi kuterus mandi, tidak lupa merokok lagi. Habis itu dosen pergi, kutidur lagi.

Sampai besok aku tidur seperti mati yang tak ada arti.

Melan

Bisa kudengar sekarang, melankolis berteriak tepat di depan telinga. Mencoba masuk lewat gendang telinga, menuju saluran yang entah apa namanya, menggerogoti kepala. Apa itu karena suara gitar atau suara piano atau suara yang aku tidak tahu berasal darimana.

Dia ingin berteman dengan saya tampaknya, sang melankolis.

Seperti tumor, ada terlihat dan membesar, tetapi tidak cukup uang untuk membuangnya. Ini sebuah penyakit. Selalu. Tulisan ini terpaksa dibuat.

Seperti Tuhan mereka yang mati tiga hari dan katanya Tuhan saya yang tidak pernah mati. Abstrak. Hanya bisa didengar.

Padahal sudah dua satu dan muncul saat sembilan belas. Dingin.

Tolong pergi dari sini, masih banyak ladang yang luas dari ini yang bisa digarap. Atau jika hanya ingin bertemu dia, dirikan saja menara. Yang sangat tinggi. Semua terlihat dari ketinggian. Semuanya. Segalanya. Seperti Tuhan.

Kenapa hanya mengurung diri seperti lilin di depan ini. Dalam gelas,  jauh dari gangguan angin. Merangkaklah, sampai di batasnya.

Namaku,…..

Dua Puluh Enam

Mereka adalah sepasang dua puluh enam tanpa disadari. Yang tak pernah tenggelam dan jangan sampai tenggelam. Sebentar lagi mereka bertemu dua puluh enam di bulan ini. Mereka dan hanya mereka.

Seperti empat belas yang sangat saya sukai, dua puluh enam mendekatkan diri.

Tiga puluh, dua puluh, semua yang berakhir nol itu kosong. Seperti membual.

Sampai bertemu sepasang dua puluh enam, berdualah kalian.

Jangan membuat empat belas kesal sekali lagi.

Jadilah dua puluh enam yang baik.