Bisa kudengar sekarang, melankolis berteriak tepat di depan telinga. Mencoba masuk lewat gendang telinga, menuju saluran yang entah apa namanya, menggerogoti kepala. Apa itu karena suara gitar atau suara piano atau suara yang aku tidak tahu berasal darimana.
Dia ingin berteman dengan saya tampaknya, sang melankolis.
Seperti tumor, ada terlihat dan membesar, tetapi tidak cukup uang untuk membuangnya. Ini sebuah penyakit. Selalu. Tulisan ini terpaksa dibuat.
Seperti Tuhan mereka yang mati tiga hari dan katanya Tuhan saya yang tidak pernah mati. Abstrak. Hanya bisa didengar.
Padahal sudah dua satu dan muncul saat sembilan belas. Dingin.
Tolong pergi dari sini, masih banyak ladang yang luas dari ini yang bisa digarap. Atau jika hanya ingin bertemu dia, dirikan saja menara. Yang sangat tinggi. Semua terlihat dari ketinggian. Semuanya. Segalanya. Seperti Tuhan.
Kenapa hanya mengurung diri seperti lilin di depan ini. Dalam gelas, jauh dari gangguan angin. Merangkaklah, sampai di batasnya.
Namaku,…..